Resensi Novel Hello Tere Liye: Tentang Cinta Beda Status Sosial


Novel Hello bukan novel fantasi maupun serial aksi sebagaimana serial Bujang dan Thomas. Sebelum dirilis, penulis kerap mengimbau kepada para pembaca terutama follower akun Instagram @tereliyewriter untuk menyediakan tisu atau sapu tangan ketika membaca Hello.


resensi novel hello tere liye


Novel Hello bukan novel fantasi maupun serial aksi sebagaimana serial Bujang dan Thomas. Sebelum dirilis, penulis kerap mengimbau kepada para pembaca terutama follower akun Instagram @tereliyewriter untuk menyediakan tisu atau sapu tangan ketika membaca Hello.

Resensator: Damara P.S

Judul Buku: Hello

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Sabak Grip Nusantara

Tahun Terbit: 2023

Jumlah Halaman: 320 halaman

ISBN: 978-623-882-968-2

Rumah Kenangan dan “Hello” yang Tertunda Dibalas

Apakah kisah ini tentang seorang arsitek muda bernama Ana? Yang salah satu hasil renovasi bangunannya mendapatkan penghargaan prestius di bidangnya? Atau kisah ini tentang sebuah rumah yang menjadi proyek baru Ana? Tentu, kisah ini bukan tentang salah satunya. Melainkan keduanya yang saling berkelindan.

Novel Hello dimulai dengan pengenalan tokoh bernama Ana. Seorang arsitek wanita muda yang namanya sedang berada di atas angin. Baru-baru ini ia dikenal banyak orang, terutama oleh mereka yang hendak merenovasi rumah atau bangunan dan ingin proyek renovasi itu dipegang oleh ahlinya.

Adalah Patrisia Helena, wanita pemilik sebuah rumah di lereng bukit sekaligus klien yang puas terhadap hasil renovasi yang dikerjakan Ana. Rumah Patrisia mendapat penghargaan sebagai Rumah Tropis Terbaik di Dunia. Itulah yang membuat nama Ana sebagai arsitek muda lekas melambung.

Patrisia merekomendasikan Ana kepada Hesty, kawan lamanya semasa sekolah. Hesty memiliki sebuah rumah warisan yang telah lama tidak ditinggali. Di belakangnya terdapat sebuah bangunan tambahan. Rumah dan bangunan itu butuh penyegaran, alih-alih dirombak atau dirobohkan. Ini karena Hesty ingin semua kenangan di rumah tersebut terjaga melalui bentuk yang dipertahankan.

Proses penyegaran itu menuntut Ana untuk menelusuri lebih dalam tentang masa lalu rumah  dan bangunan tambahan tersebut. Tentu saja, hal ini sama dengan memutar kembali seluruh kenangan itu dari sudut pandang Hesty, si empunya rumah.

Melalui kisah yang dituturkan Hesty, Rita, dan Laras, masa lalu itupun dipaparkan. Kenangan tentang masa kecil mereka dan kisah tentang Tigor, seorang anak pembantu yang bekerja untuk keluarga Raden Wijaya. Ya, novel Hello sejatinya mengungkap kisah cinta klasik milik Hesty dan Tigor.

Sudah menjadi aturan tidak tertulis pada masa itu, seorang yang berasal dari keluarga darah biru harus menikah dengan seseorang yang “sekufu”. Kalau bukan dari keturunan darah biru, bolehlah dengan keluarga yang tinggi jabatan, berpendidikan, dan berharta banyak.

Kisah cinta Hesty dan Tigor tergolong rumit. Tigor memang orang yang tinggi jabatan, berpendidikan, dan berharta banyak. Namun semua itu seolah tidak ada artinya di mata ayah Hesty. Ayahnya kaku meminta Hesty menikah hanya dengan mereka yang memenuhi tiga kriteria tersebut ditambah satu lagi: keturunan darah biru, ningrat, atau bangsawan. Bukan malah anak dari keluarga pembantu.

Tigor sebenarnya bukan tipe orang yang mudah menyerah. Meskipun ketika ombak pertama menghantam, ia sempat hendak berpasrah. Patrisia adalah salah satu yang berjasa dalam kisah Hesty dan Tigor. Turun tangan atas permintaan Hesty untuk membantu memuluskan hubungan rumit itu.

Ujian cinta Hesty dan Tigor sudah macam ombak yang bergulung disertai badai di tengah lautan. Kemudian langit dan laut sementara tenang untuk beberapa saat kembali mengembuskan angin kencang yang menggoyangkan keyakinan. Restu. Itulah yang mereka harap dari ayah Hesty yang berhati bagai batu. Bahkan hingga tutup usia, hati itu masih membatu.

Menyisakan pertanyaan bagi Hesty dan Tigor. Menyisakan “Hello” dari Hesty di ujung telepon yang tak mampu  pun tak sempat dibalas kembali oleh kekasihnya itu. Menyisakan salah paham di ujung kisah cinta mereka. Ujung? Tidak. Sebenarnya ujung itu masih sempat ditolong oleh Ana.  

Novel Hello memang fiksi. Tapi kisah cinta Hesty dan Tigor banyak dijumpai. Tidak hanya di masa yang menjadi setting waktu kisah Hesty dan Tigor, melainkan hingga kini. Perbedaan garis keturunan masih menentukan apakah cinta kedua insan dipersilakan melangkah ke jenjang pernikahan.

Ide cerita novel Hello yang terasa begitu realistis meskipun hanya fiksi, membuat novel ini layak mendapat apresiasi. Tidak hanya berisi kritik sosial yang mempertanyakan kelayakan meneruskan sebuah tradisi, melainkan juga pelajaran berharga yang bisa dipetik.

Hesty dan Tigor memang menghadapi sosok ayah yang keras kepala sekaligus keras hati. Tetapi sebagai anak, Hesty tetap menunjukkan rasa hormat dan menghargai. Ia lebih memilih cara yang diplomatis. Melalui pembuktian. Sebuah jalan yang mampu menggugah kesadaran. Menganulir keyakinan yang sempat tertanam dalam.

Sama halnya dengan Tigor. Meskipun semua pencapaiannya dalam hal pendidikan, jabatan, hingga harta yang tak sedikit sama sekali tidak dianggap, ia lebih memilih untuk tetap bersabar. Berharap hati yang sekeras batu perlahan melunak dan dapat menilai dengan adil pada dirinya.

Hesty dan Tigor memang sempat menyerah pada sebuah peristiwa yang berbeda, tetapi sama-sama mengundang kesalahpahaman. Namun, kesabaran dan kesetiaan keduanya menjadi harga yang layak dibayar.

Kelebihan dan Kekurangan

Penulis dalam salah satu postingan Instagram miliknya pernah menyampaikan bahwa cover novel Hello ini cantik sekali. Tidak bermaksud melebih-lebihkan, tetapi cover novel Hello ini memang secantik itu. Imut, malahan. Ini menambah kesan bahwa novel Hello memang didedikasikan sebagai novel remaja.

Ketebalan novel yang sebanyak 300 halaman lebih ini terbilang sedikit mengingat alur cerita yang mengalir lurus. Meskipun maju-mundur. Masa kini dan masa lalu. Bahasa yang ringan juga membantu pembaca hanyut dan tidak terasa jika telah sampai di ujung cerita.

Pengembangan tokoh cukup jelas tersampaikan. Ana, Hesty, dan Tigor. Begitu juga dengan tokoh penunjang lainnya, memiliki porsi yang bisa dikatakan cukup pas seperti Patrisia, Rita, dan Laras. Tidak kurang juga tidak berlebihan. Bahkan, cerita tentang para karyawan Ana di kantor cukup menghibur.

Konflik yang dihadirkan dalam novel Hello, cukup mampu membuat pembaca merasa gemas dan geregetan. Tigor yang sempat kekanakan dalam menghadapi tantangan hubungan. Hesty yang emosional dan tergesa-gesa dalam menyimpulkan. Dan tentu saja, Raden Wijaya yang keras hati, keras kepala sampai tutup usianya.

Novel Hello sepertinya agak kurang menarik minat pembaca yang menggemari fiksi dengan konflik yang rumit serta kasus-kasus yang menaikkan adrenalin. Membuat bergidik. Jangan pula berharap menemukan adegan maupun cerita vulgar sebagaimana novel cinta dewasa. Novel Hello lebih memberikan kesan yang heart-warming.

Rekomendasi

Novel Hello yang dikategorikan sebagai novel remaja ini perlu menjadi salah satu referensi kisah cinta bagi muda-mudi masa kini. Menyadarkan bahwa perasaan cinta perlu diperjuangkan untuk bisa bersama. Bahwa restu orang tua harus didapatkan dengan pembuktian, kesungguhan, dan kesabaran.

Pembaca yang masih berusia belasan atau awal dua puluhan juga dapat menemukan referensi terkait bagaimana menjadi pasangan yang baik. Bahkan, bisa mendapatkan pemahaman mengenai  kriteria teman hidup yang baik (secara universal) bagi dirinya.

Raden Wijaya dengan pola pendidikan yang diterapkan dan cara pandang terhadap pernikahan anak-anaknya di sini juga layak menjadi perhatian. Utamanya bagi generasi milenial yang telah menjadi orangtua sebagai bahan perenungan. Kelak, anak kita hidup di zaman yang berbeda dengan zaman kita saat masih anak-anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar