Tampilkan postingan dengan label marketing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label marketing. Tampilkan semua postingan

Resensi Buku Stupid Marketing


Bukan cara berfikir yang “out of the box” tapi ” think like there is no box”
Judul Buku : Stupid Marketing
Pengarang : Sandy Wahyudi, Avila Carlo, Evan Linando, Marvin Ade
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : 155 halaman

Stupid Marketing, buku yang dilatarbelakangi karena kebanyakan seorang marketer, mereka selalu merasa puas apa yang telah mereka dapatkan saat ini, mereka merasa sudah pintar sehingga enggan untuk belajar akan hal-hal baru dan yang sedang trend di masa kini, dan marketer yang tidak peka akan perubahan-perubahan yang begitu dinamis. Buku dengan sampul berwarna kuning cerah ini menjelaskan dengan gamblang bagaimana menjadi seorang marketer yang STUPID – dalam artian positif/yang mempunyai ide gila/yang bukan berfikir “out of the box” tapi ” think like there’s no box”. Stupid Marketing didedikasikan bagi para marketer yang ingin menjadi STUPID, yang ingin terus belajar dan berkembang, tidak pernah merasa puas karena selalu memposisikan dirinya bodoh, yang haus akan ilmu pengetahuan dan perlu untuk belajar berbagai hal.
Didalam buku ini dijelaskan bagaimana seorang marketer yang stupid membangun bisnisnya melalui rumus S-T-U-P-I-D, yaitu : Searching opportunity, Theoretical research, Utilize idea, Penetrate market, Incredible results, and Do review. Setiap tahapan (S-T-U-P-I-D) dijelaskan secara rinci ilmu apa saja yang harus dilakukan oleh seorang marketer dan bagaimana cara untuk menerapkannya. Seperti contoh pada tahapan S marketer diajarkan bagaimana mengidentifikasi peluang yang baik, bagaimana cara mendapatkan peluang, dan asal usul datangnya peluang. Di akhir tahapan S ini , akan ada yang namanya Score Card. Mudahnya, Score Card adalah semacam SOP untuk mengontrol apakah seorang marketer selama ini sudah menerapkan ilmu-ilmu yang harus dilakukan.  Tidak hanya di bagian S saja, namun di setiap tahapan T, U, P, I, dan D pun akan ada Score Cardnya. Score card ini bisa membantu marketer sebagai reminder dan tolak ukur idealnya jika melakukan tahapan tersebut, apa yang harus dikontrol, apa yang harus dilakukan.
Menurut penulis, buku ini sangat bagus untuk dibaca. Terlebih lagi bagi seorang marketer, seorang entrepreuner yang ingin berkembang dan terus belajar. Bahasa yang digunakan sangat ringan dan mudah dipahami. Sehingga sangat mudah untuk mencerna apa maksud dari penulis buku tersebut. Sistematika penulisan juga sangat rapi dan urut. Di setiap bab pembaca akan menjumpai beberapa quotes dari orang-orang ternama seperti John F. Kennedy, Bill Cosby, dan Henry Ford yang akan menambah semangat untuk membaca buku ini. Namun, kelemahannya adalah buku tersebut tidak mencantumkan contoh pengalaman real yang dialami penulis dalam memperkuat argumen setiap tahapan rumus yang mereka sajikan, seperti lebih menggunakan contoh kasus Blackberry, Iphone, Windows Xp, dll. Walaupun memang contoh yang diberikan benar adanya, namun penulis merasakan ada yang kurang. Lebih wah lagi jika rumus yang telah mereka tulis itu juga berdampak pada apa yang mereka kembangkan saat ini. Misalkan penulis buku tersebut mengalami kenaikan yang signifikan pada penjualan saat menerapkan rumus P dan sebagainya.
Kesimpulan dari penulis tentang buku Stupid Marketing ini, buku ini sangat recommended untuk dibaca, karena dijelaskan secara rinci tiap bab dan bahasanya juga mudah untuk dipahami. Saran dari penulis untuk penulis Stupid Marketing, untuk kedepannya – dalam buku lain – mungkin bisa disertakan pengalaman real penulis sehingga menambah bobot kualitas buku tersebut.